Dalam dua bulan ini perasaan susah dan gelisah selalu datang. Hari berganti hari, denting waktu pun terus berpacu seprtinya enggan untuk menunggu walau hanya sesaat. hidup sebagai anak rantau membuat aku dan kawan-kawan harus tegar dalam menghadapi dan menyikapi masalah yang sedang terjadi.
Semuanya berusaha dengan sekuat tenaga walaupun kondisi manjemen yang sudah sangat riskan namun semangat kawan-kawan untuk tetap eksis terlihat begitu kuat. walaupun terkadang di batas kekecewaan.
Memang sudah pernah aku dan kawan-kawan mencoba untuk berlayar ke samudera kehidupan mandiri menantang badai, walaupun layar itu pernah terkembang dan terpaksa di turunkan ketika ada badai, itu hanya sebuah kata dan motivasi dari seseorang yang terus memberikan saran agar jangan sampai melihat masalah yang terjadi itu sebagai sebuah masalah, tapi bagaimana caranya dalam menyikapi maslah itu” saran dari bang Iskandar norman.
Dalam beberapa minggu ini, ku cuba untuk mengukur batas akhir dari kemampuanku dalam bekerja. Sadar bahwa keberadaan diri yang sudah hampir 1 tahun ikut bekerja di media., bersama-sama kawan-kawan dalam sebuah tim. Wartawan, Layouter, dan juga redaktur adalah kelompok embloye-embloye ada dalam tim itu. Kekeluargaan yang sudah terjalin tidak mau rasanya hancur dalam sehari.
Aku sebagai layouter tetap mau standby dan berusaha untuk bisa mengatur kondisi keuangann ku yang sudah mulai morat-marit juga. Setiap malam aku di tempat mendesain tata letak dari berita yang telah dimasukkan oleh beberapa redaktur yang juga tetap masih semangat untuk bekerja.
Namun mulai semalam, rutinitas itu terpaksa dihentikan sejenak, tidak ada lagi rasa kebersamaan yang biasanya selalu terlihat ketika sore, tidak ada lagi tegur sapaan selamat datang bang mul, ceknas, cekros, bny yuyu, bang udin, qudri dan haikal sebagai layouter, hanya beberapa komputer yang masih bisa beronline saja yang menemani beberapa kawan-kawan yang dengan setianya masih tetap ke kantor.
Seakan lidah sudah kelu untuk mengucapkan kata-kata, ketak-ketok ketikan jemari-jemari wartawan pun sudah beku untuk membuat berita. Semuanya hanya merenungi nasib masing-masing bagaimana caranya bertahan dari hari ke hari.
Berita itu telah membuat pupus segala harapan dan cita-cita ku yang sudah lama ku impikan. ku takut dan sangat prihatin dengan kondisi dari diriku dan kawan-kawan yang sedang bergelut dengan kondisi kehidupan yang sudah tidak lagi pasti, semua ini adalah ujian dan cobaan dari-Nya.
Namun di balik semua ini , aku pun mulai sadar. Mungkinkah sudah waktunya aku harus menjadi ‘diri-sendiri’, manusia bebas yang mempunyai pilihan untuk menentukan arah jalan dan ritme hidupku jika denting waktu yang berjalan sudah tak mau lagi searah dengan planing yang telah ku buat. Ya.. aku hanya bisa merencanakan, tapi semuanya keputusan di tangan_Nya. La haula wala qu wata illa billah.
Pada titik ini rasanya siapapun harus mulai belajar melakukan keseimbangan baru untuk meniti waktu agar tidak jatuh, dan kalaupun jatuh harus belajar bangkit lagi. Dukungan beberapa teman baik untuk pengambilan keputusan ini sangat kuat, telah kusampaikan pada sebagian kawan-kawanku dengan argumen-argumen yang sangat masuk akal, disertai canda. Aku sangat berterimakasih, dukungan itu membuat keputusanku semakin bulat dan kokoh, pemikiranku dan inspirasiku semakin berkembang,
Aku merasa selama ini berada di dalam tim yang sangat baik, penuh rasa saling percaya, sangat dinamis, memberi ruang gerak agar masing-masing dapat tetap menjadi ‘aku’-nya sendiri namun juga berusaha bersama-sama untuk melakukan tanggung-jawab secara optimal.
Tekanan-tekanan yang berat seringkali terjadi, dan itu dirasakan kemudian menghasilkan buah berupa kearifan kerja, sebuah hasil lain yang tak ternilai. Ucapan terima kasih sangat pantas ku ucapkan kepada semua kawan-kawan dan atasanku yang selama ini sudah berjuang bersama.. Kita sudah sampai pada batas waktu masing-masing. Dan Waktu memang harus berlalu, karena demikianlah firmanNya. Dan besok sesuatu yang lebih baik tetap menjadi harapan siapapun……
Filed under: 1





Sabar kawan, hal itu biasa.
“Tekanan-tekanan yang berat seringkali terjadi, dan itu dirasakan kemudian menghasilkan buah berupa kearifan kerja, sebuah hasil lain yang tak ternilai.” tak sia-siakan,
Pengalaman kan?
~ Pozan : Sabar itu ada batasnya bro…..
Pengalaman kadang memang menjadikan kita makin tegar dalam menghadapi masalah… smga aja
husni dapat mengambil hikmah di balik ini semua…
Kadang2 keraguan, kegamangan yang dihasilkan oleh tekanan dari dalam dan luar itu juga perlu. Untuk meningkatkan kompentensi kita agar tidak hanya terpaku disatu titik…
~Tengkuputeh : Yach tgk….. Husni sangat berharap suatu saat titik-titik itu akan menyatu dan menjadi
sebuah garis yang mempunyai makna dalam kehidupan…. terimeng genaseh tgk…