Tak Tentu-tentu, Ada apa dengan malas ku……

ok-malasDalam beberapa hari belakangan ini rasa malasku kumat lagi, mulai dari malas ibadah (ibadah tertentu aja,tapi moga aja bukan amalan wajib) malas belajar, malas bersilaturrahmi (terutama sama adikku sendiri,), ,,,,,. Hmmm..ternyata malas ku juga sampe merembes pada postinganku yang tiap hari terupdate dengan berita baru,,, namun kali ini sampai si kucing dan semut-semut pun sudah tak mau datang lagi karena kemanisannya sudah hilang. :-(

Nah kalau masalah postinganya sich mulai dari bulan maret sampe sekarang masih sepi, terutama di blog lama ku, padahal begitu banyak hal-hal kulalui seharusnya menjadi sebuah artikel, apalagi dalam dua hari ini aku menjadi panitia dalam workshop yang diadakan oleh team Volunteer USK PSIK Unyiah dengan tema “COMBINED PHOTO NOVELLA AND ETHNOGRAPHY “. Tapi rasa malas terus menjadi hantu yang menakutiku ketika mau mengetiknya di Komputer.

Entah dari mana datangnya rasa malas itu kalau bukan dari diri sendiri.   Apalagi dalam lingkungan kerjaku sekarang, kawanku yang biasa sering menasehatiku ketika rasa malas datang dan  semangat ku hilang sudah tidak bekerja lagi. Dia tidak mau bekerja bukan karena suatu alasan yang tidak bisa di tolerir tapi murni karena keadaan orang tuanya. Walaupun dulu nya dia sangat mencintai pekerjaannya, sekarang dia harus segera minggat demi memenuhi keinginan untuk membahagiakan kedua orang tuanya yang sekarang lagi terbaring lemas di rumah sakit (Moga aja Allah secepatnya memberikan kesembuhan pada ab ya….. Tetap semangat bang !!!!!!!).

Tapi dalam kesedihan kehilangan seorang kawan aku juga harus menemukan kembali jati diriku. Tak boleh berpangku tangan saja dengan terlalu mengharap orang lain untuk dapat membantu mengatasi permasalahanku ini. Memang kondisi ku tidak selalu stabil, adakalanya aku sering gak mute kalau di kantor, apalgi jadwal istirahatku yang kurang karena kerjanya siang malam.

Lebih kurang 11 bulan aku berada di banda menjalani hiruk pikuk dunia kerja yang membuat ilmu dan pengalamaku sedkit bertambah , namun ada beberapa hal juga yang kurang ku sukai dari dunia kerja itu.

Pertama : aku merasa hubungan dengan keluargaku sudah berkurang rasa kebersamaan, Keberadaan ku sekarang yang jauh dari kampung orang tuaku (di banda) membuat ku tidak bisa menemani ibuku yang umurnya sudah rentan agak tua, padahal dalam usianya yang menanjak senja seprti sekarang ini, aku ingin sekali membantu dan menemaninya. Tapi beliau juga terus mendukungku untuk bekerja di banda agar aku kelak bisa lebih mandiri dalam menatap masa depan (Ibu,….. jasa memang tak terbalas,,,,, Semoga aja doamu akan selalu menjadi lentera yang menerangi anakmu ini…….

Kedua : Hubungan dengan kawan-kawanku tidak seakrab dulu lagi. Apalagi dengan kawan-kawan ku yang di kampong sana di Matangglumpandua. Kalau sempat aku pulang kampong itu pun dengan mencuri-curi waktu ketika ada cuti satu hari di tempat ku bekerja, namun tidak semua kawan bisa ku temui karena waktu satu hari itu biasanya aku pergunakan untuk bertemu dengan orang tua dan family ku. Sehingga kadang-kadang ada pesan di Hpku yang mengatakan bahwa aku kalau pulang ke kampong sangat sombong sekali, karena hanya 1 hari di gampongsudah balik lagi ke banda

Ketika : Mungkin penyebab yang ketika ini bukan karena hubungan ku dengan manusia, tapi hubunganku dengan khalik. Ku takut kalau rasa syukur ku padanya sudah sangat jauh dari harapan_Nya.  Jarang sekali aku ke tempat pengajian untuk menerima siraman rohani lagi agar jiwaku tidak seperti pohon di sahara yang tandus dan gersang.  Rutinitas kerjaku yang masuk tiap malam membuat ku selalu lalai dalam bidang ini.

Dari itu semua mungkin aku merasa bahwa segala permasalahan yang ku hadapi ini adalah tantangan untuk menguji ku sejauh mana kemampuan ku dalam memanajemenkan diri ini dalam keadaan zaman yang sudah tak tentu-tentu ini. Kerja Ok, Ibadah harus tetap No Free.

2 Responses

  1. Mantap, nice post… nyoe lon ka dari jameun ka beu o seu it, he he

  2. yuupp . . .jangan lupa untuk senantiasa berzikir juga . . .

Leave a Reply